Legenda Keramat Kepiting

Mempawah dahulunya adalah hutan. Dahulu, di suatu wilayah Mempawah yang tenang dan damai, terdapatlah hutan yang dihuni banyak binatang. Mereka hidup dengan damai dan tenang.
Apabila malam tiba, hutan tidaklah sunyi. Suara hewan malam saling bercengkrama. Suara jangkrik bersahut-sahutan dengan burung malam.
Apabila pagi menjelang, berbagai macam burung berkicau riang. Mereka keluar dari sarang hendak mencari makan. Ada pula sekawanan burung hinggap di atas atap daun nipah sebuah pondok di tengah hutan. Tanpa ragu, kawanan burung itu beterbangan dengan jinak di tanah datar yang dikelilingi bunga-bunga yang indah.
Mereka berebut mematuk biji-bijian yang ditabur di tanah datar tersebut. Ditabur oleh seorang perempuan muda nan cantik. Jemarinya lentik sembari menuai biji-bijian di tanah. Senyumnya merekah manis setiap bijian itu ia lemparkan dan disambut oleh kawanan burung.
Dialah bernama Tan Juwita. Anak perempuan yang tinggal di tengah hutan bersama ibunya seorang diri. Juwita adalah anak yang pemalu. Gerak geriknya lemah gemulai seolah telah diajari oleh bangsawan atau para raja. Tak pernah ada yang menyamai kecantikannya saat itu. Kulit kuning langsat yang bersih dan senantiasa wangi. Rambutnya panjang tergerai dan bergelombang hingga ke pinggang.
Itulah kebiasaan Tan Juwita setiap pagi yang cerah. Memberi makan kawanan burung sebelum mengerjakan pekerjaan rumah.

“Juwita…” panggil Ibunya dari dalam rumah.
Juwita menyahut dan segera masuk ke dalam rumah.
Terlihatlah seorang perempuan yang sudah tua. Bersanggul dan memakai baju kurung usang. Parasnya berbeda dengan Tan Juwita. Kulitnya lebih gelap. Rambutnya lurus dan gelap.
“Ada apa, Mak?” sahut Juwita, kemudian duduk di dekat ibunya.
“Juwita, anakku. Masihkah kau memberi makan burung-burung dan hewan lainnya di halaman rumah kita?”
“Iya, Bu. Si Raja Udang yang terluka kakinya sudah sembuh. Ia malah hinggap di bahuku tadi. Sepertinya tahu siapa yang mengobati kakinya.”
“Tapi, Nak. Janganlah terlalu kerap kau beri mereka makanan. Sebab Allah sudah menyediakan rezeki untuk semua makhluk-Nya. Termasuk burung-burung dan hewan yang setiap pagi kau taburkan jagung dan biji-bijian itu.”
Ibunya tidaklah marah. Namun Juwita paham bahwa ibunya memprotes tindakannya. Juwita merasa apa yang ia lakukan tidak salah. Tapi perkataan ibunya juga tidak bisa dikatakan salah. Ia juga tak mau membuat hati ibu yang sudah tua ini terluka. Perlahan ia menjawab ibunya berharap ibunya bisa mengerti.
“Tak apa, Bu. Juwita senang kalau bertemu dan bermain bersama mereka. Apalagi banyak yang sudah jinak dan suka manja sama Juwita.”
“Baiklah, kalau begitu. Asal kau senang. Ibu juga tidak bisa melarang sebab kau pasti merasa bosan hidup di tengah hutan. Tanpa ada satu pun manusia yang tinggal selain kita. Bahkan sejak kau lahir, baru sekali saja kau kuajak di luar hutan. Maafkan Ibu yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak. Kau harus tinggaldi pondok di tengah hutan yang sepi. Tidak pernah keluar hutan karena jaraknya terlalu jauh dan berbahaya.”
Raut wajah ibunya sedih.
Juwita sebenarnya ingin membenarkan perkataan ibunya bahwa ia bosan sendirian. Tapi ia juga tidak membenarkan ibunya menyalahkan dirinya sendiri.
“Bu, Juwita senang, kok. Tidak apa-apa.” Ia terdiam sejenak. “Kalau Ibu tidak keberatan, Juwita tidak masalah kok berjalan kaki hingga ke kota atau sekedar di pinggir hutan.”
Raut ibunya kaget. Hampir seperti kalut.
“Jangan, Nak! Di luar sana berbahaya! Ibu tidak rela kalau kamu keluar di sana!”
Tan Juwita menhan sesak dadanya. Ia tidak tahu seberapa besar bahayanya hidup di luar hutan ini. Suasana hening menjelang dan menyelimuti seluruh pondok. Keduanya tidak berbicara. Hneing sejenak, tapi rentangnya terasa jauh lebih lama.
“Iya, Bu. Juwita keluar dulu. Mungkin timun kita sudah ada yang berputik.”
Tan Juwita perlahan turun dari ranjang ibunya dan keluar ke pintu belakang rumah. Tanpa ia sadari, ibunya meneteskan air mata.
Juwita turun ke ladang belakang rumah. Ladang adalah hal kedua yang mengusir kebosanannya selain bermain bersama para hewan. Ia dna ibunya menanam banyak tanaman. Termasuk padi dan jagung. Seingat Juwita, hanya dua kali ia melihat ibunya keluar dari hutan membawa hasil panen. Kemudian pulang membawa pakaian untuknya. Membawa banyak garam dan sepasang anting cantik.
Hasil ladang dan hutan lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Bahkan untuk pakaian, mereka menenun kapas yang tumbuh di hutan. Cukup untuk membuat pakaian menggunakan alat tenun dan pintal yang sudah ada sejak Tan Juwita Lahir.
Sebenarnya ada banyak yang membuat Tan Juwita penasaran. Jika di luar hutan itu seberhaya yang ditakutkan ibunya, mengapa ibunya dua kali dari luar hutan dalam keadaan sehat, bahkan berhasil menukar hasil panen dengan pakaian dan perhiasan? Juwita sering mengabaikan pikiran itu. Mungkin ibunya sudah snagat paham cara hidup di luar hutan sehingga bisa pulang dengan selamat.
Juwita juga penasaran mengapa ada alat pintal dan alat tenun di rumah. Jika alat itu terkadang rusak, ibunya juga bisa memperbaiki dengan alat tukang yang juga sudah tersedia di pondok. Juwita heran, alat tukang dan alat tenun itu terbuat dari apa? Ia hanya tahu pakaian terbuat dari kapas. Nasi terbuat dari padi. Susu berasal dari kambing. Sedangkan semua perkakas itu, Juwita belum menemukan bahan atau tanaman pembuat yang masuk akal.
Selagi ia berpikir dan merenung, sekeranjang timun sudah ia panen. tapi, bukan itu yang membuat ia menghentikan lamunan. Melainkan semak bunga telang yang bergerak seolah-olah ada sesuatu di baliknya.
“Kepiting!”
Bukan main terkejut Tan Juwita melihat kepiting yang seharusnya tidak berada di tengah hutan, justru bergerombol di dekat ladang. Bahkan seekor kepiting yang berukuran paling besar terlihat tidak baik-baik saja. Juwita mengenal hewan ini karena dulu pernah diajak ibunya ke tepi laut. Ke arah lain di bagian hutan. Itu sudah lama sekali sampai-sampai, Juwita tidak tahu arah menuju laut.
Seekor kepiting besar mendekat ke Juwita seolah mengatakn sesuatu.
Juwita tidka mengerti. Tentu saja ia tidak pandai bahasa hewan. Tapi, entah mengapa ia merasa sedih. Ia melihat sepertinya segerombolah kepiting sednag lari dari sesuatu sampai-sampai mengungsi di balik semak bunga telang di tengah hutan.
Juwita menoleh ke sekitar dan tak menemukan apapun. Semua biasa saja kelihatannya. Kecuali kawanan kepiting yang banyak. Beberapa bahkan terlihat lemas. Mungkin saja bukan wilayah tempat tinggalnya sehingga terlihat lemas karena kelaparan.
“Aku tidak bisa memberi kalian biji-bijian. Bukankah tempat tinggal kalian di tepi laut? Di tepian karang? Mengapa bisa kemari?”
Tentu saja kepiting tak bisa menjawab. Tapi, sekali lagi entah bagaimana, Juwita merasakan kegelisahan kepiting. Kepiting besar iotu kemudian disusul dengan semua kepiting lainnya mengarah keluar semak. Seolah-oleh mengajak Juwita untuk mengikuti jejak mereka. Juwita berdiri sambil menoleh ke rumahnya.
Ibunya tidak ada.
Ia menoleh lagi ke kawanan kepiting yang menunggu ia untuk ikut serta.
Penasaran. Kasihan. Ingin tahu. Bercampur aduk. Membuat Juwita berkeinginan kuat untuk mengikuti perasaannya.
“Perasanku bilang sepertinya mereka perlu pertolongan,” pikirnya.
Juwita tidak bisa pergi terlalu jauh tanpa bersama ibunya. Tanpa izin. Ibunya akan sedih jika Juwita pergi tanpa sepengathuan ibunya.
Dengan lirih. Setengah berteriak, setengah tidak, Juwita menyahut, “Ibuuuu…, Juwita pergi dulu ya. Sebentar.”
Rasa ingin tahu yang kuat mengalahkan akal sehatnya. Sayup-sayup, ia merasa ibunya bilang, “Pergilah. Jangan terlalu lama.”
Padahal tidak ada yang menjawab.
“Nah, kepiting. Ayo! Lagipula aku kan sudah izin ke ibu.”
Maka pergilah Juwita mengikuti rombongan kepiting. Kepiting raksana terlihat sebagai pemimpin perjalanan tersebut. Kuat dugaan Juwita bahwa kepiting-kepiting ini memerluan bantuannya. Sangat jelas bagaimana mereka menuntun Juwita hingga akhirnta tiba di tepi laut yang ditutupi oleh hamparan pohon bakau.
Suara debur ombak dan burung laut membuat suasana yang berbeda dengan di tengah hutan. Juwita tidak tahu perlu berapa lama ia tiba di sini. Jaraknya tidaklah jauh. Pantas saja ketika hutan terlalu sunyi, ia seolah mendengar suara laut.
Juwita berdiri di atas batu karang di mana kepiting raksana dan beebrapa lainnya beridi di atas batu tersebut. Sementara kepiting lainnya seolah kembali ke tempat tinggal mereka.
kepiting raksana tidak bicara apapun. Namun arah pandnagan dan capitnya menunjuk ke lepas pantai.
Ke arah beberapa peragu besar dengan bendera berkibar.
Salah stau perhau berhias dengan kain emas!
Juwita tergamam sekaligus ketakutan.
Apa yang ia pandang saat itu mengerikan. Banyak perahu berlabuh di dekat pantai. Terombang ambing oleh ombak. Di kejauhan, Juwita juga melihat ada beberapa orang yang lalu-lalang. Sebelah selatan, bahkan terdapat semacam pondok. Seperti pondok tempat ia tinggal, namun terdapat banyak hiasan. Seperti payung, bendera, dan hal lainnya yang belum pernah dilihat Juwita. Semua tampak berkilau dan mewah. Berwarna kuning mirip dengan perhiasan yang dulu pernah dibelikan ibunya dari luar hutan.
“Hei!”
Bukan main terkejutnya Juwita ketika ada suara berat menyapanya. Juwita mendapati seorang yang tinggi, berpakaian warna biru dan perak, bertutup kepala dengan kain tenun perak, dan di pinggangnya terselip semacam senjata pendek dengan hulu yang berukir rumit.

Juwita ingin pergi. Namun, orang itu berdiri menghalangi jalannya. Sedangkan di depannya adalah laut. Juwita melompati batu karang dan turun ke pantai yang terendam oleh air laut sebatas betisnya.
“Jangan takut. Aku bukan orang jahat. Kau siapa? Mengapa di sini?”
Juwita tak menjawab. Ia hanya ingin lari. Bahkan ketika da seseorang lagi dengan berpakaian lebih sederhana mendekati, Juwita semakin ketakutan. Ia ingin menangis.
“Ibu!!!” Juwita berteriak memanggil ibunya.
Seseorang berpakaian mewah itu menghalangi Juwita untuk pergi. “Hei, tidak apa-apa. Jangan takut? Bagaimana kau bisa ada di sini? Anak gadis sepertimu bagaimana bisa ada di pulau terpencil itu? Kau datang dari mana?”
Berbagai pertanyaan memberondong. Juwita berisaha menghindar. Ia juga takut untuk menjawab. Justru sebenarnya dialah yang bertanya mengapa orang-orang itu ada di dekat hutan tempat tinggalnya.
“Jangan ganggu anakku!”
Ibu Juwita berdiri di tepi pantai, di dekat pohon bakau. Wajahnya tak pernah segarang itu. Juwita lekas berlari berlindung di balik tubuh ibuynya. Tangisnya pecah. dadanya rusuh.
“Mak, kami tak ada maksud buat mengganggu. Hanya sekedar bertanya. Kami pikir Mak ini bukan manusia.”
“Bagaimana mungkin kau bilang anakku bukan manusia?” jawab Ibu Juwita berang. Perlahan membawa Juwita keluar dari tepi pantai.
Orang itu masih mendekat. Bahkan dari kejauhan beberapa orang seperti datang menghampiri.
“Tentu saja aku heran sebab pulau ini terpencil. Bagaimana bisa ada perempuan cantik berdiri di atas batu karang dikeliling banyak kepiting?”
“Ya, anggap saja kami ornah bunian!” jawab ibuny Juwita ketus.
Seseorang yang berpakaian sederhana yang sedari tadi memperhatikan ibunya Juwita mendekat.
“Mak Long? Mak Long Teja, kan?”
Ibunya Juwita terperangah. Matanya memerah bercampur akibat marah, ketakutan, dan sedih. Entah ia bersedih karena apa.
“Mak Long, ini aku Sayyid!” katanya seolah sudah lama tidak bertemu orang yang ia rindukan.
“Kau kenal mereka, Sayid?” tanya si lelaki berpakaian mewah.
“Dia pengasuh …” Jawaban Sayid terhenti. Ia sekilas melihat wanita paruh baya yang ia kebal sebagai Mak Long Teja itu menggeleng sembari memohon. Ia seketika ingat bahwa jangan-jangan ini akan jadi masalah besar.
“Ah, tidak, Tuan! sepertinya hamba salah lihat orang.” katanya.
Keduanya memandangi Juwita dan ibunya pergi. Perlahan menghilang di balik pohon bakau menuju ke dalam pekatnya hutan.
Seperti kedua orang itu yang memperhatikan kepergian Juwita dan ibunya, Juwita pun sempat menoleh sejenak. Juga melihat beberapa orang menangkap kepiting di pinggir pantai. Ia sadar itulah alasan mengapa kepiting meminta pertolongannya.
Namun, Juwita tak berani berkata apa-apa pada ibunya yang senantiasa menggenggam tangannya. Menarik ia kembali pulang ke pondok. Terlihat kaki ibunya berdarah. Terkena akar pohon bakau. Juwita semakin sedih karena dirinyalah, ibunya luka. Terlebih lagi, ibunya terlihat ketakutan. Tidak seperti biasa.
Semenjak kejadian itu, ibu Juwita sakit-sakitan. Ia demam parah. Tapi, yang membuat Juwita lebih sedih adalah ibunya sudah sedikit bicara padanya. bahkan menolak diobati luka kakinya oleh Juwita.
Ketika ibunya berbaring lemah itu, Juwita memberanikan diri untuk datang mendekat.
“Ibu, Juwita minta maaf, Bu.”
Ibunya tidak menjawab. Tapi Juwita tahu ibunya tidak sedang tidur. Perlahan Juwita meraba dahi ibunya. Masih panas.
“Juwita berjanji tidak akan mengulangi perbuatan Juwita. Juwita sudah bilang pada Ibu kalau Juwita diajak oleh kepiting besar. Juwita hanya ingin membawa mereka kembali ke rumah mereka di tepi laut. Juwita tidak menyangka kejadiannya akan membuat ibu sampai sakit seperti ini.”
Ibunya masih belum bergeming.
Juwita menangis. Tak kuat rasa hatinya melihat ibunya marah padanya berhari-hari. Bahkan hingga sakit-sakitan seperti ini. Kejadian itu sudah lewat beberapa hari. Tapi, ibunya masih saja terlihat marah pada Juwita. Terkadang ketika malam tiba, Juwita mendengar ibunya menangis.
Juwita sangat penasaran mengapa pemuda itu memanggil ibunya dengan sebutan Mak Long Teja. Jelas sekali kalau pemuda itu seolah mengenal ibunya. Ia penasaran dan snagat ingin tahu. Tapi, ia paham saat ini kondisi ibunya tidak memungkinkan untuk ia tanyai. Lagipula, ini semua kesalahannya.
Tanpa ia sadari, di selingi sesgukan tangisnya, ibunya Juwita duduk menghadap ke dirinya. Tangannya mengelus bahu Juwita.
“Anakku, Tan Juwita! Ibu sayang padamu.”
“Juwita tahu, Bu. Juwita yang salah. Juwita hanya ingin menghilangkan rasa bosan. sampai-sampai tidak mengindahkan pesan ibu untuk tidak pergi jauh dari rumah tanpa izin ibu. Maafkan, Juwita, Bu!”
Ibunya mengangguk. Meneteskan air mata sambil perlahan mengusap rambut anaknya.
“Kau cantik seperti ayah ibumu.”
Ucapan itu membuat Juwita terheran. Tapi, ia alihkan keheranan itu dengan berpikir mungkin ibunya sedang memuji dirinya sendiri juga.
“Terkadang, manusia suka menuruti hawa nafsu. Ingin bersenang-senang hingga mengabaikan aturan. Juwita, ibu tidka berniah buruk. Ibu ingin kau bertemu banyak orang lain di luar sana. Tapi, hanya ibu yang tahu apa alasannya mengapa ibu melarang keras kau keluar sembarangan dari hutan kita ini.”
Juwita tanpa sadar menanyakan rasa penasaran yang terkurung dalam dadanya semenjak kejadian itu.
“Bu, kenapa orang itu menyebut ibu dengan sebutan Mak Long Teja?”
Mendnegar itu, ibunya Juwita menangis sesegukan. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. bahunya berguncang. Juwita kalut melihat ibunya mendadak menangis.
Cukup lama Juwita mennenangkan ibunya. Memberinya air minum. beru kemudian ibunya sedikit reda.
“Juwita. Tan Juwita! Dengar nasihat ibu.”
Juwita mengangguk.
“Apapun yang terjadi, hiduplah dengan baik. Jagalah rumah kita. jaga hutan kita ini. Tempat kau tinggal dengan baik. Kau tidaklah salah. Tapi, ibu tak mau kau dicelakakan orang. Kau dibawa orang pergi. Ibu belum bisa cerita apa-apa. Tapi, percayalah. Ibu cuma mau melindungimu.”
“Iya, Bu. Juwita akan jaga tempat tinggal kita ini dengan baik,” jawab Juwita.
Pertanyaannya tak terjawab. Rasa penasarannya belum tertuntaskan. Tapi, lebih penting dari itu, ia menuruti nasihat ibunya. Sebab kondisi ibunya begitu lemah. Mana mungkin ia menyangkal atau bertanya macam-macam.
Hingga suatu ketika!
Tepat pada pagi buta. Langit tidka secerah pagi biasanya. Mendung terlihat dari arah laut. Angin bertiup kencang seolah akan ada hujan besar yang akan turun. Juwita mengkhawatirkan ibunya. Ia pergi ke kamar ibunya. tapi ibunya tidak ada.
“Ibu..”
Ia mencari ke sekeliling rumah.
“Ibu di mana? Sepertinya akan ada badai, Bu,” panggil Juwita. Ibunya masih tidak ada di mana-mana.
Mana mungkin pula ibunya pergi ke luar hutan. Kondisi ibunya masih lemah. Masih sakit. Kalau ibunya akan pergi, pasti ibunya akan mengatakan padanya sehari sebelumnya. Ibunya juga tidak membawa tudung daun kelapa dan tongkat untuk bepergian. Bahkan tidak ada baju yang keluar dari lemari.
Juwita gelisah.
Ia turun dari rumah.
Pandangannya menuju ke arah laut.
Lagi! Kepiting besar ada di dekat kakinya. Persis di depan tangga rumah.
“Kepiting?”
Entah mengapa Juwita merasa bahwa ia harus pergi ke laut saat itu juga!
Tapi, ia ingat betapa kejadian lalu membuat kondisi ibunya memburuk. Tidak mungkin ia mengulangi kesalahan yang sama hanya menuruti perilaku kepiting yang ia duga mengajaknya ke suatu tempat.
“Entah kenapa perasaanku tidak nyaman!”
Lagi! Juwita menuruti kepiting setelah ia melihat jejak setapak yang sepertinya baru dilewati orang.
Mengabaikan kesalahannya yang lalu, Juwita kembali mengikuti kepiting raksasa. yang kali ini dia sendirian tanpa kawanannya lagi. Menuju ke laut.
Awan mendung perlahan bergerak menyebar. Sesekali Juwita menoleh ke arah langit. Juga ke arah rumahnya. Tapi, ia sudah kepalang berjalan menuju ke arah laut. Lagipula, ibunya tidak ada di mana pun ia mencari. Ia berjanji akan segera kembali ke rumah apabila ibunya benar-benar tidak ada di pantai.
Hujan mulai turun perlahan.
Angin dingin menusuk kulit Juwita. rambutnya basah ditimpa air hujan dan embun yang jatuh dari pepohonan.
Tak lama kemudian ia tiba di kawasan hutan bakau. Ia diajak menuju ke tumpukan batu karang di sisi lain pantai. Bukan di batu karang yang waktu itu. Ia memanjati batu karang yang lebih tinggi.
Hujan punturun deras. Memunculkan kabut putih. Namun, Juwita tidak ragu bahwa ia melihat selendang ibunya sobek di atas batu karang yang waktu itu ia datangi. Dari kejauhan selendang berwarna kunyit itu terlihat melambai tertiup angin, namun tertahan oleh batu yang runcing.
“Ibu memang ke sini,” gumamnya.
Juwita tidak lantas menyisiri pantai untuk mencari ibunya. Sebab entah bagaimana perasaannya mengatakan ia tak pernah bisa melihat ibunya lagi.
Sebab, bukan hanya karena hujan turun semakin deras. Angin bertiup kencang. Hawa terasa semakin dingin menusuk kulit. Melainkan kawanan perahu yang sebelum ini ia lihat tertambat di dekat pantai seolah terombgang-ambing hanyut. Wilayah yang waktu itu berdiri beberapa pondok, tenggelam. Puing pondok-pondok dan kemah itu terombang-ambing.
Hujan baru turun sekarang.
Lantas mengapa satu lahan pantai tenggelam! Seolah daratannya turun ke perut bumi!
Sejumlah kepiting merangkak mendekati Juwita.
Barulah Juwita menyadari ada banyak kepiting berada di sepanjang garis pantai. dari atas batu karang itu, Juwita melihat kepiting-kepiting itu berkerumun, terutama di tempat orang-orang asing itu berkemah. Pasir dan tanaman bakau yang tampak dari daratan, perlahan runtuh. Memunculkan air laut yang semakin dalam.
Kepiting-kepiting itu menggali pasir dan hutan bakau hingga menenggelemkan sejumlah area daratan. Hingga semua perahu yang awalnya tertambat, hanyut karena jangkarnya terangkat. Pondok dan kemah tenggelam dan hanyut di laut. Orang-orang terlihat susul menyusul menaiki perahu.
Bahkan ada perahu yang sudah berlayar menjauh.
Daratan di dekat batu karang tempat selendang ibunya tersangkut nyaris akan tenggelam.
Buru-buru Juwita turun dan menuju ke batu tempat selendang ibunya tersangkut.
Diambilnya selendang itu. Didekapnya ke dada. Kali itulah dadanya sesak.
Tangisnya meruap.
Semakin terlihat jelas di manat Juwita para kepiting menggali dengan capitnya. Menggali tanah sehingga sebagian pulau itu runtuh!
Dari jauh, Juwita melihat seseorang berdiri di haluan perahu. Pemuda yang memanggil ibunya dengan sebutan Mak Long Teja. Tak jelas apa maksud di balik pandangan mata pemuda itu. Juwita hanya berdiri mematung dengan mata penuh air mata sambil mendekap selendang ibunya.
“Ya Tuhan! Apabila baik bagiku jika pantai ini hilang, maka lenyapkanlah! Buatlah tidak ada satu manusia pun yang menemukan aku. Jika mereka menemukan tempat itu, tenggelamkanlah daratannya agar mereka tidak datang mendekat lagi,” rintih Juwita.
Rambutnya yang basah terobang-ambing dilayang angin. Hujan tidak sederas sebelumnya. Namun, hujan masih deras sepanjang kawanan perahu itu menjauh. Semakin lama, perahu-perahu itu mengecil karena menjauh dari pulau tersebut.
Juwita mendunduk. Menoleh pada kepiting raksasa di dekat kakinya.
“Menggalilah lebih dalam, Kepiting!”
Tan Juwita turun dari pijakannya yang sudah mulai disentuh air laut. Ia menyusuri air yang awalnya daratan, kini sudah mulai dinaiki air laut setinggi lututnya. Ujung batu karang yang tadi ia naiki, mulai ditutupi air laut. Terlihat dikerumuni kepiting di puncaknya, hingga kemudian hilang. Kepiting-kepiting berenang dan terus menggali hingga air semakin dalam.
TunTeja tidak menemukan kepiting raksasa lagi. Seriring ia berjalan mundur perlahan meninggalkan tepi laut.
Tubuhnya memutar. Kembali memasuki ke dalam hutan.
Sendiri.
Tak ditemukan!

SELESAI


Tinggalkan Balasan