img 20260809 wa0024

Al-Qawa’idul Arba’ – Empat Kaidah Penting Memahami Hakikat Tauhid & Syirik

Daurah Syar’iah Pembahasan Kitab Karya Penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab oleh Ustadz Abu Dawud Hafidzahullah

26 Shafar 1448 H / 9 Agustus 2026

1000170116

Daurah
Al-Qawa’idul Arba’
Empat Kaidah Penting Memahami Hakikat Tauhid dan Syirik
Oleh Ust. Abu Dawud hafizahullah
Mempawah, 26 Safar 1448 H
Penulis buku : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Penulis memulai tulisannya dengan bismillah.
Faedahnya :

  • Meminta pertolongan
  • Meminta keberkahan
  • Hendaknya seseorang meminta pertolongan pada Allah dalam semua urusan, karena tidak ada daya dan upaya selain bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala.
    Pada pembukaan, penulis berdoa bagi pembacanya untuk dijaga dan dilindungi dunia dan akhirat; diberikan keberkahan; dijadikan termasuk golongan yang bersyukur, bersabar, dan beristighfar.
    Istighfar bukan hanya ketika berbuat dosa, melainkan juga tidak berbuat dosa. Sebab istighfar juga bermakna berbuat kebaikan. Sebab kebaikan yang kita lakukan akan menghapus kejahatan (dosa) yang kita lakukan.
    Di antara sifat orang beriman adalah mendoakan kebaikan untuk saudaranya, meskipun tidak mengenal. Sebagaimana penulis mendoakan pembaca bukunya.
    Kenapa Allah hanya menyandarkan nama “Al-Haniyyah” pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
  • Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rasul, semuanya mengklaim beragama dengan agamanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kakeknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

QS. Adz-Dzariyat : 56

Tidak dianggap ibadah jika tidak diiringi dengan tauhid, sebagaimana tidak dinamakan salat kecuali dengan bersuci.

Kaidahnya :

  • Ibadah wajib dibarengi dengan tauhid.
  • Ibadah yang bercampur dengan kesyirikan, maka ibadah itu rusak dan batal.
  • Alasan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah pada Allah.

[Dampak Ibadah Bercampur Kesyirikan]

  • Batal ibadah tersebut
  • Hapus sebagian/seluruh amalan
  • Diancam neraka selamanya

Untuk memahami hakikat tauhid dan syirik, perlu mengetahui 4 kaidah yang telah Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam Al-Qur’an.

Kaidah : pokok atau pondasi di mana yang lainnya dibangun di atasnya. Itulah sebabnya pentingnya kita mempelajari kaidah (pondasi) dalam belajar.

KAIDAH PERTAMA Orang-orang kafir mengetahui siapa pencipta dan pengatur urusan mereka, yakni Allah. Tapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. QS. Yunus : 31

Ada 2 perkara kaidah ini :

  • Orang kafir di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meyakini dan mengakui tauhid rububiyah.
  • Keyakinan dan pengakuan tersebut tidak bermanfaat karena Nabi tetap menghukum dan memerangi mereka sebagai orang kafir.

KAIDAH KEDUA Orang-orang kafir menjadikan makhluk sebagai perantara. Mereka beranggapan sembahan itu untuk mendekatkan atau syafaat.

Allah batalkan alasan mereka itu :

  1. Sembahan itu Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta.
  2. Sembahan itu tidak mendatangkan kemudharatan atau manfaat. Perbuatan mereka

Syafaat yang diperbolehkan :

  1. Izin dulu pada Allah.
  2. Ucapan dan perbuatannya diridhoi Allah.

Faedah dari kaidah ini :

  • Nama tidaklah mengubah hakikat sesuatu, sehingga tidak boleh tertipu / terkecoh dengan slogan dan nama tersebut.
  • Niat yang baik tidak berarti menghalalkan segala cara, apalagi menyalahi syariat.
  • Syafaat adalah istilah syar’i yang harus dipahami dan dilaksanakan secara syar’i.

KAIDAH KETIGA Di antara mereka, ada yang menyembah malaikat, nabi, orang shaleh, bepohonan, batu, bulan, dan matahari.

  • Kaidah ketiga ini menunjukkan hukum syirik, bahwa syirik tidak melihat derajat sembahan tersebut.
  • Menyembah Allah, menyatukan umat. Adapun menyembah selain Allah, membuat umat berpecah belah.

KAIDAH KEEMPAT Orang-orang kemusyirikan orang-orang zaman sekarang lebih parah dari kemusyirikan orang-orang zaman dulu. QS. Al-Ankabut : 65

Dalam kaidah keempat ini, hendak dijelaskan derajat kesyirikan zaman dulu dengan zaman sekarang. Sebab orang zaman dahulu, melakukan kesyirikan saat sedang senang. Ketika ditimpa musibah atau malapetaka, mereka bertauhid. Sedangkan di zaman sekarang, orang melakukan kesyirikan baik saat senang maupun saat kesulitan.Ini menunjukkan, manusia semakin menjauhi masa kenabian, maka semakin buruk.

Salinan Dari Kitab Terjemahan

AL-QAWA’ID AL-ARBA’

1000170114

Karya: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman at-Tamimi rahimahullah (W. 1206 H.)

Bismillahirrahmanirrahim Wabii nasta’in

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan

Penulis berkata, “Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Pemilik ‘Arasy yang agung, supaya membimbingmu di dunia dan akhirat, menjadikannmu diberkahi di mana pun engkau berada, menjadikannmu termasuk orang yang jika diberi nikmat dia bersyukur, jika diberi ujian dia bersabar, dan jika berbuat dosa dia beristighfar. Sesungguhnya tiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.”

Ketahuilah —semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya— bahwa al-Haniyyah, yaitu agama Nabi Ibrahim, adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan murnikan ketaatan kepada-Nya. Untulk inilah Allah memerintahkan dan menciptakan seluruh manusia. Sebagaimana Allah berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).

Jika engkau telah memahami bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidak dianggap sebagai ibadah (yang benar) kecuali jika diiringi dengan tauhid (mengesakan Allah dalam ibadah tersebut), sebagaimana tidak dinamakan shalat kecuali dengan bersuci (thaharah). Apabila perbuatan syirik masuk ke dalam ibadah, maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats akan merusak thaharah.

Jika engkau telah memahami bahwa perbuatan syirik apabila mencampuri ibadah niscaya akan merusaknya, menghapus amal, dan menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka, maka berarti engkau telah memahami bahwa wajib engkau (pelajari) adalah memahami ini semua. Semoga Allah menyelamatkanmu dari jaring (jebakan) ini; yakni perbuatan syirik yang Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) dipersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa’: 48). Hal itu dengan cara mengerti empat kaidah yang telah Allah sebutkan di dalam al-Qur’an.

KAIDAH PERTAMA

Hendaknya engkau pahami bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah adalah mengaku bahwa Allah adalah yang Maha Menciptakan dan Maha Mengatur. Namun, pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Dalilnya adalah firman Allah, “Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Lalu mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?’” (Yunus: 31).

KAIDAH KEDUA

Orang-orang musyrik itu berkata, “Kami tidak menyembah dan menghendaki (ibadah) kami kepada mereka melainkan untuk mencari kedekatan dan syafa’at.”

Dalil yang menunjukkan bahwa mereka mencari kedekatan, yaitu firman Allah, “Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik dan keburukan). Dan orang-orang yang mengambil para pelindung selain-Nya (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka, melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan sangat kafir.” (Az-Zumar: 3).

Dalil yang menunjukkan bahwa mereka mencari syafa’at yaitu Firman Allah, “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18).

Syafa’at terbagi dua macam:

  1. Syafa’at yang ditiadakan (manfiyah) dan syafa’at yang ditetapkan (mutsbatah).

Adapun syafa’at yang ditiadakan (manfiyah) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah dalam masalah-masalah yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh Allah. Dalilnya adalah firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 254).

Sedangkan syafa’at yang ditetapkan (mutsbatah) adalah syafa’at yang diminta kepada Allah. Orang yang memberi syafa’at dimuliakan dengan syafa’at itu, dan orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhai oleh Allah dan amalnya oleh Allah izinkan. Allah berfirman, “Tidak ada sisi-Nya yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” (Al-Baqarah: 255).

KAIDAH KETIGA

Bahwa Nabi diutus di tengah orang-orang yang berbeda-beda dalam ibadahnya. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih, juga ada yang menyembah pohon dan batu, matahari dan bulan. Rasulullah memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan mereka dengan lainnya. Dalilnya adalah Firman Allah, “Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah dan agama itu semata-mata bagi Allah.” (Al-Anfal: 39).

Dalil bahwa mereka ada yang menyembah matahari dan bulan adalah Firman Allah, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah hanya kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika hanya kepada-Nya kalian beribadah.” (Fushshilat: 37).

Dan dalil bahwa mereka ada yang menyembah malaikat adalah Firman Allah, “Dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kalian menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan-tuhan.” (Ali Imran: 80).

Dalil bahwa mereka ada yang menyembah nabi adalah Firman Allah, “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan (yang disembah) selain Allah?’ (Isa) menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Dirimu. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib’.” (Al-Ma’idah: 116).

Dan dalil bahwa mereka ada yang menyembah orang-orang shalih adalah Firman Allah, “Makhluk-makhluk yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka siapa yang lebih dekat…” (Al-Isra’: 57).

mencari jalan (untuk mendekatkan diri) kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab-Nya.” (Al-Isra’: 57).

Dalil bahwa mereka ada yang menyembah pohon dan batu adalah Firman Allah, “Maka apakah kalian sembah al-Lata, dan al-‘Uzza, serta Manat yang ketiga yang lain (yang kalian sembah itu dapat mendatangkan manfaat atau mudarat, sehingga pantas menjadi sekutu-sekutu bagi Allah)?” (An-Najm: 19-20). Dan juga hadits dari Abu Waqid al-Laitsi, dia berkata, “Kami keluar bersama Nabi menuju perang Hunain. Kami adalah orang-orang yang baru lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Saat itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon bidara yang mereka beroperasi di sampingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu yang diberi nama Dzatu Anwath. Kami pun melewati sebuah pohon bidara dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! buatkan untuk kami Dzatu Anwath seperti mereka memiliki Dzatu Anwath…’” dan seterusnya. (*)

Selengkapnya:

“Maka Rasulullah bersabda, ‘Allahu Akbar. Ia adalah tradisi-tradisi. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian telah berkata sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa, ‘Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).’ (Al-A’raf: 138). Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan beliau menshahihkannya). Lihat, Kitab Tauhid, Pemurnian Ibadah kepada Allah, Syaikh Muhammad at-Tamimi, Darul Haq, hal. 36.

KAIDAH KEEMPAT

Bahwa orang-orang musyrik di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan dengan orang-orang musyrik yang di zaman dahulu; karena orang-orang musyrik di zaman dahulu melakukan perbuatan syirik di saat senang, tetapi ketika dalam keadaan susah, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita melakukan perbuatan syirik di saat senang dan susah.

Dalilnya adalah Firman Allah, “Maka apabila mereka mengendarai kapal (dan menghadapi gelombang serta badai, sehingga mereka takut bahaya), mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ketatan) hanya kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-Ankabut: 65).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)