1000197411

Fiqh Thaharah

•

Bab 1: Pengertian, Hukum, dan Dalil Thaharah

1. Pengertian Thaharah

  • Secara Bahasa: Bersuci atau membersihkan.
  • Secara Istilah: Bersuci dari hadats besar maupun kecil agar ibadah yang disyaratkan adanya thaharah menjadi sah, terutama shalat.

2. Hukum Thaharah

  • Wajib ‘ain (kewajiban bagi setiap individu muslim).

3. Dalil Syar’i tentang Thaharah

  • Hadits Nabi ﷺ: “Tidaklah diterima shalat salah satu kalian apabila ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bab 2: Media Thaharah (Alat Bersuci)

  1. Air
    • Fungsi: Digunakan untuk berwudhu, mandi wajib, cebok (istinja’ dari BAK dan BAB), serta membersihkan diri dari najis.
  2. Kerikil, Daun, dan Tisu
    • Fungsi: Mensucikan/membersihkan najis setelah BAB atau BAK.
  3. Tanah
    • Fungsi: Mensucikan najis berat (mughallazhah), seperti wadah atau bejana yang terkena air liur anjing.
    • Dalil Syar’i: Rasulullah ﷺ bersabda: “Cara menyucikan bejana salah seorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.” (HR. Muslim)
  4. Debu / Pasir
    • Keterangan: Bukan pengganti air secara umum, melainkan media Tayammum sebagai pengganti wudhu atau mandi wajib dalam keadaan tertentu.

Bab 3: Pembagian Jenis Air

klasifikasi jenis air bersuci
  1. Air Mutlaq (Air Alami)
    • Definisi: Air murni yang berada pada sifat aslinya (seperti air hujan, air laut, atau air sumur).
    • Sifat: Thahir Muthahhir (Suci dan menyucikan).
    • Dalil Syar’i:
      • Al-Qur’an: “…dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (suci).” (QS. Al-Furqan: 48)
      • Hadits Air Laut: “Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya.” (HR. Ibn Majah, Abu Dawud, Tirmidzi)
      • Hadits Sumur: “Sesungguhnya air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.” (HR. Abu Dawud)
  2. Air Musyammas
    • Definisi: Air yang terlalu panas atau terlalu dingin.
    • Sifat: Thahir Muthahhir (Suci dan menyucikan), tetapi makruh untuk digunakan bersuci.
  3. Air Musta’mal
    • Definisi: Air yang telah dipakai/digunakan setelah bersuci.
    • Sifat: Thahir Ghairu Muthahhir (Suci zatnya, tetapi tidak dapat menyucikan kembali).
  4. Air Najis
    • Definisi: Air yang kemasukan najis dengan ketentuan:
      • Volume air kurang dari dua qullah, ATAU
      • Volume air mencapai dua qullah atau lebih, tetapi berubah salah satu sifatnya (warna, bau, atau rasa) akibat najis tersebut.
    • Sifat: Ghairu Thahir / Najsun Ghairu Muthahhir (Tidak suci / najis dan tidak menyucikan).
    • Hukum/Fungsi: Tidak bisa digunakan untuk mensucikan najis pada pakaian maupun untuk mengangkat/menghilangkan hadats.
    • Dalil Syar’i: Air tidak dihukumi najis kecuali jika berubah rasa, warna, atau baunya akibat najis. Contohnya ketika seorang Arab Badui kencing di masjid, Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menyiramkan setimba air di atas bekas kencing tersebut.

Bab 4: Air yang Tercampur Benda Suci

  1. Berubah Warna, Rasa, atau Bau:
    • Sifat: Thahir Ghairu Muthahhir (Zatnya suci, tetapi tidak menyucikan).
  2. Tercampur Sesuatu yang Biasa Ada di Tempatnya:
    • Keterangan: Tercampur dengan benda suci yang sulit dihindari di tempat keberadaan air tersebut (misalnya lumut atau dedaunan), meskipun mengubah sifat air.
    • Sifat: Thahir Muthahhir (Tetap suci dan menyucikan).
    • Dalil Syar’i: Air tetap dalam kesuciannya selama tidak keluar dari keasliannya/kemutlakannya, sebagaimana perintah Rasulullah ﷺ kepada para wanita untuk memandikan jenazah putri beliau dengan air yang dicampur daun bidara dan kapur barus.


1. Lanjutan Pembahasan Air & Catatan Wudhu

  • Air yang tercampur/terkena benda suci (air mutlaq): Berubah bau, rasa, atau warnanya.
  • Kesimpulan (Air yang tidak boleh dipakai berwudhu):
    1. Air Musta’mal
    2. Air Najis

2. Bab An-Najasah (Najis)

  • Pengertian: An-Najasah merupakan bentuk jamak dari najasah (najis). Najis adalah sesuatu yang dianggap menjijikkan bagi orang yang bertabiat normal.
  • Ketentuan Hukum:
    • Najis tidak boleh dibawa shalat; jika terbawa, maka shalatnya tidak sah.
    • Najis tidak membatalkan wudhu.

3. Hal-Hal yang Termasuk Najis

1 & 2. Air Kencing dan Kotoran Manusia

Dalil Syar’i (HR. Abu Dawud & Ahmad):

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَطِىءَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ اْلأَذَى، فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُوْرٌ، وَفِي لَفْظٍ: إِذَا وَطِىءَ أَحَدُكُمْ اْلأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُوْرُهُمَا التُّرَابُ.

“Bila salah seorang dari kalian menginjak kotoran dengan sandalnya, maka tanah menjadi penyucinya,”

3. Madzi

  • Definisi: Cairan putih, encer, dan lengket yang keluar ketika timbul syahwat atau saat melihat lawan jenis / pasangan.

4. Wadi

Definisi: Cairan yang keluar biasanya setelah buang air kecil (kencing).

توضأ وانضح فرجك

‘Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu‘

1000197416

5. Kotoran Hewan yang Dagingnya Tidak Halal Dimakan

Klasifikasi HewanContoh HewanHukum KotoranStatus Shalat (Jika Terbawa)
Halal Dimakan (Rata-rata Herbivora)Ayam, Sapi, Ikan, Bebek, Kelinci, Kambing, Kuda, Unta, BurungTidak NajisShalat Sah
Tidak Halal Dimakan (Pemangsa/Pemakan Bangkai/Manusia)Pria/Wanita (Manusia), Kucing, Harimau, Singa, Anjing, Babi, Kelelawar, Gajah, KeraKotoran NajisShalat Tidak Sah

6. Darah Haid dan Nifas

  • Dalil Syar’i (Al-Qur’an):
  • وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ
  • “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”

7. Air Liur Anjing

8. Bangkai

  • Kategori Bangkai Najis:
    1. Jasad hewan yang tidak boleh dimakan.
    2. Jasad hewan yang boleh dimakan tetapi mati sebelum disembelih secara syar’i.
    3. Jasad hewan yang disembelih tidak sesuai syari’at.
  • Kategori Bangkai yang Tidak Najis (Suci):
    1. Bangkai ikan dan jangkrik.
    2. Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir (misalnya: lalat, semut, lebah, belalang, nyamuk).
    3. Tulang, tanduk, dan bulu.

4. Poin Tambahan: Cara Menyucikan Kencing Bayi

  1. Diperciki Air: Berlaku untuk air kencing bayi laki-laki di bawah usia 6 bulan yang belum mengonsumsi makanan (hanya ASI).
  2. Dicuci (Disiram): Berlaku untuk air kencing bayi perempuan, ATAU air kencing bayi laki-laki yang sudah berusia 6 bulan ke atas / sudah mengonsumsi makanan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)